
al-Hujwiri dalam bukunya Kasyf al-Mahjub menuliskan “Andaikata dunia hendak meraih cinta, ia tak akan mampu dan andaikata ia akan menolaknya, ia juga tak akan mampu, karena cinta itu adalah anugrah, bukan suatu hasil usaha. Cinta Berasal dari Tuhan”
Cinta pada Tuhan seringkali dimaknai dengan kepatuhan untuk menjalankan perintahnya serta ketakutan untuk menerjang larangan-larangannya. Disini cinta sangat erat kaitannya dengan iman, kepercayaan atau keimanan pada Tuhan membuat seorang sufi yang dirasuki atau mencari cinta ilahi beriman kepada Tuhan dengan melakukan segala aturan yang sudah Dia tetapkan dalam kita suci. Dalam diri pecinta Tuhan, melakukan perintah-perintah Tuhan dan menyembah-Nya bukan lagi karena adanya rasa takut akan siksa, tetapi lebih karena kecintaan yang begitu dalam kepada-Nya serta ketakutan akan terpisah dari-Nya.
“Ketakutan kepada api neraka, jika dibandingkan dengan ketakutan akan berpisah dengan Sang kekasih (Tuhan), ibarat setetes air yang dijatuhkan kedalam samudera yang luas” (Dhun Nun al-Misry)
Jadi, kepatuhan pada Tuhan bukan lagi karena ancaman siksa-Nya atas mereka yang melanggar larangan-larangan dan tidak melakukan perintah-Nya, tetapi lebih pada upaya mendekatkan diri dan melakukan sesuatu demi Sang kekasih (Tuhan) agar kedekatan itu tetap terjaga.
Tuhan tidak lagi dipandang sebagai Dzat yang siksanya begitu pedih, akan tetapi Tuhan dianggap sebagai Dzat yang penuh cinta kasih, maha pengampun, maha penyayang dan maha indah.
Ketika cinta sudah bersemayan dalam jiwa, maka Tuhan tidak harus ditakuti lagi, karena pecinta tidak akan takut dengan kekasihnya. Dia mematuhi perintah dan larangan-Nya, karena memang dia butuh untuk memuaskan cinta dalam dirinya. Para sufi selalu mengingat (dzikir) Sang Kekasih karena mereka dikuasi oleh perasaan yang begitu dalam (maghlub) akan Kekasihnya.
Dalam diri seorang sufi selalu memandang inti dari suatu karena ketergantungan dan keterpedayaan akan bentuk luar seringkali membawa manusia jauh dari yang “ada” Seseorang seharusnya tidak terjebak dengan bentuk luar dari sesuatu, karena itu hanyalah sesuatu yang tertangkap oleh indera. Padahal dalam semesta raya ini, hal yang tidak tertangkap oleh indera jauh lebih banyak dan manusia telah dikaruniai akal dan perasaan untuk menangkap dan memahami semua itu.
Sebagai contoh misalnya dalam hal makanan, seseorang lebih memandang berharga dan mulia sepotong daging dibandingkan dengan seiris tahu atau tempe. Padahal yang membuat semua itu berharga hanyalah rasa lapar.
Jika seseorang sedang berada dalam sebuah perahu di tengah lautan dan kehausan, maka setetes air yang sejuk akan jauh lebih berharga daripada satu peti emas yang tidak bisa menghilangkan rasa haus. Di mata seorang arif semua sama, baik itu satu sen, satu rupiah, seekor kucing ataupun seekor singa.
Dalam sebuah kesempatan Jalaludin Rumi pernah berkata “Ketika engkau ditanya. “apakah cinta itu ?” Jawablah. “Cinta adalah membuang keinginan”. dan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din menyatakan, “Aku mau penyatuan dengan Dia.” Dalam kedua pernyataan mistikus besar Islam tersebut terdapat apa yang disebut ketulusan yang mengandaikan sebuah usaha untuk menekan “Keakuan” agar pencinta bisa benar-benar dekat dengan Tuhan.
“Cinta orang yang sudah mati tidak abadi, sebab yang sudah mati tidak akan kembali” tapi cinta yang hidup lebih segar dari kuncup yang baru bersemi, baik bagi mata batin maupun lahir.
Pilihlah cinta yang hidup abadi, yang tidak akan pernah berakhir, yang memberikan kita anggur, yang menambah kekuatan jiwa”.
Sajak di atas menunjukan bagaimana cinta yang diinginkan para sufi. Mereka mendambakan cinta yang abadi, cinta yang tidak lapuk oleh perjalanan waktu dan pergantian ruang, cinta yang berasal dari yang abadi . Oleh karena itu seorang pencinta begitu mendambakan untuk bisa menyatu dengan Sang Kekasih walaupun dengan mengorbankan kedirian dirinya. Selama pecinta belum mampu mengatasi keakuannya, maka dia tidak akan pernah bisa menggapai cinta-Nya.
Cinta adalah leburnya pecinta ke dalam diri Kekasihnya atau dengan kata lain, cinta berarti masuknya sifat-sifat Kekasih kedalam diri sang pecinta. Sehingga ketika cinta sudah begitu jauh memasuki hati dan kesadaran seorang pecinta, maka terjadilah penyatuan dengan Sang Kekasih. Begitulah cinta para sufi. CInta yang membawa mereka kepada Yang Abadi, yang tidak pernah mengenal kehancuran. Cinta para sufi merupakan sebuah jalan yang akan membawa seseorang kepada-Nya.
Meskipun cinta sufistik menuntut sebuah kepatuhan, kepasrahan, ketulusan dan peleburan antara seorang pecinta dengan Sang Kekasih, namun bukan berarti seorang pecinta akan memakai segala cara untuk membela Kekasihnya, seorang pecinta sejati tidak akan pernah membenci apalagi menggunakan kekerasan untuk membela Kekasihnya, karena cinta bukan lawan dari kebencian, Toleransi, penghargaan dan penghormatan terhadap sesamalah yang merupakan satu kesaksian cinta.
CInta tidak berarti bahwa hidup di dunia harus diabaikan dan ditinggalkan, ada kerja keras di dunia yang harus dilakukan seorang pecinta. Sebagai manusia, ia dituntut untuk melakukan suatu kerja keras, berkemauan dan disiplin dalam menjalani hidup, karena itulah yang akan mampu membedakan manusia dengan malaikat dan setan.
Kemauan, kerja keras dan disiplin merupakan hal-hal yang wajib dilakukan, bukan hanya dalam hidup Ukhrawi tapi juga diniawi. Dengan melakukan sesuatu didunia, seorang manusia akan semakin sadar dengan keberadaan dirinya dan memberikan kesaksian akan cintanya kepada Tuhan. Satu hal yang sering menjadi persoalan adalah timbulnya keterikatan dan ketergantungan manusia pada dunia.
Dalam hidup ini hati harus kosong dari keterikatan duniawi, karena itulah yang akan bisa membuat jiwa selamat dari gelombang besar kehidupan yang mengombang-ambingkan kesadaran manusia.
Kehidupan adalah sebuah perahu yang ada ditengah-tengah lautan sementara hal-hal duniawi adalah air. Jika saat berlayar, perahu itu diisi penuh dengan air, maka perahu itu akan cepat tenggelam apabila dihantam gelombang ombak, namun jika perahu itu diisi air secukupnya maka perahu itu akan tetap sanggup mengembang dan berlayar hingga ketujuan.
Hal itulah yang pernah dimintakan Rasulullah Muhammad SAW dalam do’anya kepada Tuhan sekaligus kekasihnya. Allah swt. (HM-Gg/April 2010)
Filed under: Agama, Life, religi | Ditandai: Agama, Life, love, religi | Tinggalkan sebuah Komentar »